Sandal Jepit dan Restu Ibu
Angin malam menyusup lewat sela-sela dinding bambu, membawa aroma tanah basah dan sisa hujan sore itu. Gubuk reyot itu berdiri di ujung dusun, dikepung pohon-pohon pisang yang daunnya bergesekan pelan setiap kali angin lewat. Lampu minyak tergantung di paku karatan, nyalanya kecil dan gemetar, seperti ikut merasakan beratnya malam yang menyelimuti keluarga kecil itu.
Tri duduk di ambang pintu, kaki telanjang menapak tanah yang masih lembap. Usianya enam belas tahun, namun raut wajahnya sudah menyimpan kerutan kekhawatiran yang seharusnya belum pantas dimiliki remaja seusianya. Ia menatap langit yang gelap tanpa bintang, memikirkan sesuatu yang tak berani ia ucapkan keras-keras.
Dari dalam gubuk, terdengar suara batuk kering yang memecah kesunyian. Batuk itu datang bersahut-sahutan, seperti napas yang dipaksa keluar dari dada yang sudah rapuh. Itu suara ibunya, Mak Ijah, yang terbaring di atas tikar pandan sejak tiga bulan lalu, sejak penyakit paru-parunya semakin parah dan tak lagi mampu ia sembunyikan.
"Tri, tolong ambilkan air," suara lemah itu terdengar dari balik dinding bambu.
Tri segera bangkit, meraih kendi tanah di sudut dapur kecil mereka. Air di dalamnya sudah…
