Langit di Atas Kota Kecil
Kabut masih menggantung tipis di atas atap-atap seng ketika Murong Chu membuka pintu klinik itu. Engsel besi berderit panjang, seperti keluhan tua yang sudah hafal betul jam berapa ia harus dibuka setiap hari. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah enam. Udara dingin menyusup lewat celah jendela kayu yang mulai lapuk, membawa aroma tanah basah dan asap dari tungku warung nasi seberang jalan.
Chu menghela napas pelan, lalu meletakkan tasnya di meja kayu yang catnya sudah mengelupas di beberapa sudut. Klinik keluarga itu kecil saja—dua ruang periksa, satu lorong sempit untuk menunggu, dan rak obat yang isinya tak pernah benar-benar lengkap. Namun bagi penduduk kota kecil itu, tempat ini adalah satu-satunya harapan ketika demam menyerang atau tulang mulai ngilu di usia senja.
Ia mengenakan jas putih yang kebesaran, warisan dari mendiang kakaknya yang dulu bercita-cita menjadi perawat sebelum akhirnya menikah dan pindah ke kota lain. Chu sendiri tak pernah bercita-cita apa pun yang jelas. Ia hanya tahu bahwa ayahnya sakit, ibunya sudah terlalu lelah menjaga klinik seorang diri, dan seseorang harus mengisi kekosongan itu.
“Chu! Sudah datang?” Suara Bu Wulan, tetangga sekaligus…




