Pengakuan Cinta yang Tertunda
Melati berdiri di tepi jendela, menatap gerimis yang menempel di kaca. Hatinya bergetar, bukan karena dinginnya cuaca luar, tetapi karena ketidakpastian yang menyelimuti pikirannya. Hari ini adalah hari pertama Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang akan membawanya ke desa kecil, jauh dari kenyamanan kota. Suasana senyap di dalam kamar seolah mencerminkan perasaannya yang ragu dan cemas. Ia adalah sosok pendiam, lebih sering terbenam dalam buku-buku daripada terlibat dalam percakapan hangat dengan teman-teman sebayanya.
Setelah berpakaian rapi dan merapikan rambutnya, Melati melangkah keluar, menyusuri jalan setapak menuju kampus. Di luar, suara tawa dan canda mahasiswa memenuhi udara, menciptakan atmosfer ceria yang kontras dengan kepribadiannya yang tenang. Di tengah keramaian, ia melihat Bayu, seorang pemuda yang dikenal karena senyumnya yang menawan dan sifatnya yang energik. Bayu adalah lawan dari Melati, berani dan terbuka, selalu dikelilingi oleh teman-teman yang mengaguminya.
"Melati!" teriak Bayu sambil melambaikan tangan. Suaranya seperti alunan musik di telinga Melati, menyentuh bagian terdalam hatinya yang jarang terjamah. Ia tersenyum kecil, meskipun rasa gugup menggerogoti…
