Desa Sukamaju
Debu mengepul dari jalan berbatu, menyusup masuk melalui sela-sela terpal yang menutupi bak mobil pikap. Melati menutup mulutnya dengan syal tipis yang sengaja ia bawa, matanya menyipit menahan silau matahari sore yang menerobos dari sisi terbuka kendaraan. Di sekelilingnya, belasan mahasiswa lain bergelak tawa, saling melempar candaan, seolah perjalanan tiga jam yang melelahkan ini tak lebih dari sekadar rekreasi akhir pekan. Melati hanya diam, memeluk tas ranselnya erat-erat seakan benda itu satu-satunya penopang yang tersisa dari dunianya yang lama.
Ia melirik jam tangan. Pukul empat lewat dua puluh menit. Seharusnya jam segini ia masih berada di laboratorium kampus, menimbang reagen dengan teliti, mencatat setiap perubahan warna larutan dalam buku catatannya yang rapi. Namun kini tubuhnya terombang-ambing di atas jalan berlubang, menuju sebuah desa yang bahkan namanya baru ia dengar dua minggu lalu saat pembagian kelompok KKN diumumkan.
Sukamaju. Nama yang terdengar penuh harapan, tapi entah mengapa hanya membuat perutnya semakin mual—bukan karena jalanan yang bergelombang, melainkan karena bayangan dua bulan ke depan yang harus ia lalui jauh dari zona amannya.
Gadis itu…


