Darah di Telapak Tangan
Bab 1: Darah di Telapak Tangan
Hujan belum reda sejak sore, meninggalkan bau tanah basah yang menyusup lewat ventilasi ruang tunggu pangkalan udara. Murong Chu duduk di kursi plastik yang dingin, menunggu Ziye pulang dari misi latihan rutin seperti biasa. Ia membawa kotak bekal berisi sup jagung manis yang baru ia masak, kesukaan Ziye sejak mereka pertama bertemu tiga tahun lalu. Uap dari kotak itu masih terasa hangat di pangkuannya ketika radio komunikasi di meja penjaga tiba-tiba berderak keras, memutus lamunannya.
"Kondisi darurat! Ulangi, kondisi darurat! Pesawat XZ-07 mengalami kegagalan hidrolik, meminta izin pendaratan darurat!"
Chu menegakkan tubuh. Jantungnya berdegup lebih kencang meski ia belum tahu pasti siapa yang dimaksud. Petugas jaga di depannya langsung berdiri, wajahnya memucat, lalu berlari ke arah menara komando tanpa sempat menjawab pertanyaan Chu yang mengejar di belakangnya.
"Pak! XZ-07 itu pesawat siapa?"
Tidak ada balasan. Hanya derap sepatu bot yang menjauh, tenggelam dalam derasnya hujan.
Sepuluh menit berikutnya menjadi rentang waktu paling menyiksa dalam hidup Chu. Ia berdiri di lorong, meremas ujung kotak bekal hingga penyok, matanya terus…


