Desa di Ujung Musim Kemarau
Bus kecil itu berhenti dengan sentakan terakhir yang membuat seluruh tubuh Melati terhempas ke depan. Suara rem berdecit memenuhi udara siang, disusul embusan asap knalpot yang menyengat hidung. Melati menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum melangkah turun. Dua belas jam perjalanan dari kota membuat punggungnya kaku dan pikirannya kusut, dipenuhi keraguan yang sudah bersarang sejak keberangkatan.
Ia menjinjing tas ranselnya yang berat, lalu menuruni tangga bus satu per satu. Begitu kakinya menjejak tanah, panas menyergap seketika—bukan panas kota yang lembap, melainkan panas kering yang menempel di kulit, membuat tenggorokannya langsung terasa gersang. Debu jalanan berkelebat tertiup angin, menyapu wajahnya dengan butiran-butiran halus yang membuatnya menyipitkan mata. Di sekelilingnya, desa itu tampak lengang. Hanya ada beberapa rumah berdinding bata setengah jadi, pohon-pohon mangga yang daunnya menguning, dan jalan tanah berbatu yang memanjang hingga entah ke mana.
Melati berdiri sejenak, menatap sekitarnya dengan perasaan asing yang menyesakkan dada. Ia terbiasa dengan kesibukan kota, dengan kesendirian yang bisa ia atur sesuka hati. Namun di sini, di…


